Pada dasarnya berbagai jenis rokok yang ada di dunia dapat dikategorikan ke dalam beberapa kelompok/jenis rokok menurut komposisi jenis tembakaunya antara lain:
- American blend adalah rokok yang mayoritas menggunakan tembakau Virginia, Turkey (Izmir dan/atau Basma) dan Burley sebagai bahan bakunya. Ciri khas dari rokok ini adalah pemakaian tembakau Burley pada campurannya yang dapat memberikan rasa berat di dada (chest impact) disamping efek throat response yang tinggi (rasa seperti tersedak dan batuk waktu menghisap), sehingga dikatakan rokok ini lebih maskulin dibandingkan dengan British blend.
- British blend adalah jenis rokok yang mayoritas menggunakan tembakau Virginia dan Turkey sebagai bahan bakunya. Dengan tidak adanya tembakau Burley, rokok ini biasanya lebih halus dan ringan ketika dihisap. Ciri khas dari aroma tembakau Virginia biasanya akan muncul. Untuk chest impact dan throat response relatif rebih rendah jika dibandingkan dengan American blend.
- German blend adalah rokok yang mayoritas menggunakan tembakau Virginia dan Turkey sebagai bahan baku campurannya dengan perbandingan yang hampir seimbang.
- Turkish blend adalah rokok yang mayoritas atau hampir 100% menggunakan tembakau Turkey sebagai bahan baku campurannya baik itu varietas Izmir maupun Basma. Kandungan Tar pada tembakau Turkey biasanya lebih tinggi jika dibandingkan dengan tembakau Virginia maupun Burley, sehingga sering meninggalkan flek hitam yang menempel pada gigi para perokok.
- Kretek blend (I love this one!) adalah rokok yang mayoritas menggunakan bahan baku campuran dari tembakau varietas lokal di Indonesia, meskipun saat ini ada beberapa produsen yang sudah mulai menggunakan tembakau Virginia, Turkey maupun Burley sebagai bahan campurannya. Berbagai karakter tembakau Indonesia yang mempunyai ciri khas tersendiri mulai dari tembakau Madura, Temanggung, Bojonegoro, Weleri, Garut, Paiton, Besuki, Kalituri, Tambeng, Papi, Curahnongko (Banyuwangi), Beringin (Bondowoso), Karangjati sampai tembakau Lombok dan masih ratusan jenis yang lainnya dicampur menjadi satu (komposisi tergantung dari produsen/pabrik rokok pembuatnya) untuk menghasilkan rokok dengan citarasa khas Indonesia. Kekhasan rokok kretek adalah pada campuran cengkeh keringnya (yang dirajang secara vertikal maupun horizontal) yang diberikan dengan perbandingan antara 20-45% terhadap campuran tembakau tergantung dari keinginan pabrik pembuatnya.
- Jenis-jenis rokok lain yang ada di dunia antara lain cerutu (cigar), chewing tobacco (tembakau susur) dan Roll Your Own (RYO) cigarette. Produk rokok ini biasanya agak berbeda proses pembuatannya dengan kelima jenis rokok di atas. Perbedaannya terletak pada pengolahan daun tembakau setelah panen antara lain dengan melalui proses fermentasi/pemeraman atau proses pengasapan (dark fire cured) sehingga mempunyai citarasa dan aroma yang berbeda dengan tembakau rajang biasa yang melalui proses flue-cured (Virginia), air-cured (Burley) dan sun-cured (Turkey dan tembakau rajangan Indonesia pada umumnya).
Dilihat dari fungsinya di dalam blend, jenis-jenis tembakau dapat dikelompokkan menjadi 3 bagian antara lain:
- flavor: adalah jenis-jenis tembakau yang memiliki ciri khas atau karakter sebagai penentu aroma dan rasa rokok atau sebagai komponen utama dari rokok yang menentukan citarasa (taste) dan aroma (aromatic tobacco) dari sebuah brand/merk rokok.
- semi flavor: adalah tembakau-tembakau yang memiliki ciri khas atau karakter aroma dan rasa rokok yang sedang yang fungsinya untuk melengkapi citarasa dan aroma dari tembakau jenis flavor.
- filler: adalah jenis-jenis tembakau yang kurang/tidak memiliki ciri khas yang dapat merubah/menambah aroma dan rasa rokok. Tembakau jenis ini biasanya baik aroma dan rasanya cenderung datar dan berfungsi sebagai pelengkap campuran.
Dilihat dari definisi tar (and nicotine) delivery, rokok dibagi menjadi beberapa bagian antara lain:
- full flavor
- medium/mild flavor
- light dan
- ultra light
Untuk rokok yang ultra light biasanya tar dan nicotine delivery-nya sangat rendah yaitu masing-masing sama atau dibawah 1 mg. Sedangkan untuk full flavor tar delivery-nya masih di atas 20 mg.
Untuk rokok kretek Indonesia tar delivery-nya masih berkisar antara 30-50 mg dan nicotine delivery-nya masih di atas 2 mg. Tantangan yang masih harus dihadapi oleh produsen rokok kretek Indonesia adalah dengan menurunkan kadar tar dan nicotine hingga titik terendah agar bisa bersaing dengan rokok lainnya dipasaran dunia.
Beberapa upaya yang dilakukan untuk menurunkan tar dan nicotine delivery pada umumnya dapat dilakukan dengan:
- Filtrasi: dengan menggunakan filter untuk menjerap beberapa partikel tar atau yang lebih dikenal dengan sebutan dry particulate matter (DPM) agar tidak sampai ke mulut atau paru-paru para perokok. Filter rokok juga dapat dikombinasikan dengan arang (charcoal) untuk meningkatkan efektifitas penjerapan DPM yang dikenal dengan sebutan charcoal filter.
- Meningkatkan porositas bahan: hal ini dapat dilakukan dengan menaikkan porositas kertas rokok (cigarette paper) agar lebih banyak melewatkan udara saat rokok dihisap. Hal yang sama juga berlaku untuk pemberian lubang ventilasi pada tipping paper yang membungkus filter rokok sehingga memungkinkan meningkatnya udara yang dihisap dan menurunkan volume tar dan nicotine delivery pada saat yang sama.
- Modifikasi ukuran rokok: pengurangan diameter maupun panjang rokok juga merupakan salah satu upaya untuk menurunkan tar dan nicotine delivery pada sebatang rokok. Rokok yang memiliki diameter kecil biasa disebut rokok slim.
- Disamping itu cara-cara lain juga banyak diupayakan agar tar dan nicotine delivery menjadi lebih rendah mulai dari pemilihan bibit tembakau yang rendah kadar tar dan nicotine-nya hingga perlakuan dan pengolahan penurunan kadar tar dan nicotine di sejumlah pabrik rokok besar di dunia dengan teknologi yang mereka punyai seperti proses cast leaf dan expanded tobacco.
Terlepas dari itu semua, pengembangan teknologi rokok kretek di Indonesia yang rendah kadar tar dan nikotinnya masih jauh dari harapan karena hal itu membutuhkan biaya riset dan penelitian yang tidak sedikit dan belum tentu hasilnya akan memuaskan semua pihak khususnya end customer atau para perokok itu sendiri.
Paling tidak, dengan mencintai produk dalam negeri (rokok kretek: red.) kita dapat membantu ekonomi banyak keluarga di Indonesia, dapat membantu pemerintah menambah penghasilan dari cukai untuk pembangunan negara dan lebih meningkatkan roda perekonomian Indonesia secara makro.
Bagaimanapun juga Aku tetap cinta rokok kretek Indonesia!!!
No comments:
Post a Comment